Inilah air mata istimewa. Pemilik air mata ini adalah orang yang akan dijauhkan sejauh-jahnya dari neraka…akan mendapat naungan disaat tidak ada naungan selain naungan-Nya semata, Inilah tetesan air mata penghuni surga, tetesan air mata yang akan memasukkan pemiliknya ke dalam surga...
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
"Ada dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah. Dan mata yang begadang berjaga dalam jihad fi sabilillah" (Sunan at Tirmidzi no.1563, berkata Abi Isa, "hadits ini hasan gharib)
Alangkah baiknya seseorang yang tangisannya dialamatkan untuk kecintaan kepada Allah. Dengannya Allah akan menyediakan satu pelindung baginya dari adzab akhirat. Menangisnya ditujukan kepada rahman dan rahim Allah. Ia menangis karena takwa dan takut melakukan sesuatu yang dimurkai-Nya. Sebuah tangisan yang akan membawanya ke dalam taman surga. Untuk mengarahkan tangisan kepada yang diridhai Allah subhanahu wa ta'ala dapat ditempuh beberapa cara, di antaranya:
- Memperbanyak baca al Quran dengan memahami maknanya, terutama ayat-ayat yang kita baca di dalam shalat, kemudian berusaha untuk merenungi dan meresapi maknanya ke dalam hati. Pilih waktu, suasana, dan tempat yang tepat, seperti tengah malam, ketika shalat tahajjud dan sebagainya. Jika hal ini mulai dibiasakan, akan ada pengaruh yang berarti dalam kehidupan kita, insyaallah. Kita pun akan mudah tersentuh dan menangis ketika membaca al-Quran, sedang shalat, atau tengah berdoa. Abdullah bin Syukhair (bapak dari Mutharrif) berkata,“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang shalat, sementara dari rongga dadanya ada suara gemuruh seperti gemuruh air mendidih dari periuk yang ada di atas tungku berapi, (disebabkan) karena tangisan beliau.” ( Sunan Abi Dawud no. 769, Sunan an-Nasai no. 1199, Musnad Ahmad no. 15722)
- Mengenali nama-nama Allah yang Maha tinggi dan sifat-sifatNya yang agung sebagaimana disebutkan dalam al-Quran dan as-Sunnah. Berusaha merenungi kebesaran, keagungan, ketinggian, dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta’ala melalui keindahan dan keunikan ciptaan-Nya, disertai dengan introspeksi atas kelemahan diri kita sebagai hambaNya.
- Menghadiri majelis-majelis ilmu, mendengarkan nasehat-nasehat para ulama yang bisa menyentuh batin, sehingga membuat kita menangis. Shalat berjamaah di belakang imam yang mudah menangis ketika melantunkan ayat-ayat suci al-Quran, simaklah kaset-kaset ceramah yang berisi nasehat-nasehat terutama mengenai tazkiyatun nafs, murattal yang isinya bacaan-bacaan penuh dengan kekhusyukan dan tangisan. Suasana seperti itu bisa menyentuh dan mempengaruhi jiwa.
- Mengingat kematian. Bagaimana kita akan meregang nyawa mengadapi sakaratul maut. Ingatlah ajal adalah semakin dekat ke ambang pintu kematian. Perhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang sedang sakaratul maut, baik yang tampak padanya tanda-tanda husnul khatimah ataupun suul khatimah. Renungkan kejadian itu secara mendalam. Kemudian kita bayangkan jika kejadian yang mengerikan itu menimpa diri kita sendiri, dengan tubuh yang semakin lemah, semakin dingin dan semakin tidak berdaya menghadapi kematian, dengan nafas yang tersengal-sengal meregang nyawa yang mau keluar. Tubuh kita menggigil menahan sakitnya sakaratul maut, lalu malaikat maut menarik nyawa dari tubuh kita yang sudah kaku tak bergerak. Hak nya diri kita sendiri yang merasakan sakitnya sakaratul maut.
- Mengingat dan membayangkan kedahsyatan hari kiamat. Pada hari itu terdengar tiupan pertama terompet malaikat Israfil yang sangat dahsyat, sehingga menggelegarkan alam jagat raya ini dan seluruh isinya. Semua makhluk dicekam ketakutan. Semua manusia dalam kebingungan, panik, dan sangat takut. Mereka semua seperti orang yang sedang mabuk. Semua lari tapi entah ke mana tujuannya. Pada hari itu seorang ibu yang sedang menyusui anaknya tidak peduli lagi dengan anak yang sedang dia susui.Seorang bapak tidak bisa berbuat apa pun untuk menolong anak dan istrinya. Semua hanya mengurusi diri sendiri, tanpa ada yang bisa diperbuat. Semuanya dicekam ketakutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
- Mengingat murka Allah subhanahu wa ta’ala kepada umat-umat terdahulu, seperti umat nabi Luth. Mereka dibinasakan dengan hujan batu, lalu bumi mereka dibalikkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena mereka bergelimang dengan dosa homoseksual. Banyak umat terdahulu yang dihancurkan Allah subhanahu wa ta’ala karena kedurhakaan mereka kepada-Nya.
- Memperbanyak doa agar Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan karunia-Nya kepada kita agar bisa menangis karena-Nya. Hendaklah kita selalu bermunajat pada-Nya dan sungguh-sungguh dalam berdoa agar kita dijauhkan dari hati yang tidak khusyu´ dan mata yang tidak bisa menangis, dari perbuatan tercela, termasuk korupsi, memfitnah, memakan harta yang bukan miliknya, riba, tipu daya, dan makan harta anak yatim dan seterusnya.
- Jangan meremehkan dosa. Sekecil apa pun doa akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Ibnu Mas´ud radhiyallohu anhu berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosakdosanya seakan-akan dia berada di bawah sebuah gunung dan khawatir kalau gunung itu ditimpakan kepadanya. Sedangkan seorang fasik melihat dosa-dosanya bagaikan melihat seekor lalat yang bertengger di hidungnya.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa menangis karena takut pada-Nya, mampu meneteskan air mata surga. Teteskan air mata surga dari sekarang juga! Wallahulmusta’an.
Disarikan dari Majalah Fatawa hal.6 Vol. 3 No. 12 | Desember 2007 | Dzulhijjah 1428
No comments:
Post a Comment