Sebagai seorang muslim tentu kita sering membaca dan mendengarkan al-Quran baik di dalam shalat atau diluar shalat. Kita pun sering mendengar ceramah yang berisi nasehat dan arahan. Pernahkah pada saat tersebut, hati kita tersentuh kemudian air mata pun mengalir? atau barangkali kita merasa biasa-biasa saja? atau bahkan karena suatu sebab justru malah tertawa...?
Menangis di saat mendengar ayat-ayat Allah dan nasehat-nasehat tentang akhirat adalah merupakan bukti dalamnya iman, merupakan bukti manfaatnya ilmu dan merupakan kebiasaan para Nabi dan orang-orang shalih selagi di dunia. Tangisan keimanan menunjukkan kualitas iman seseorang. Karena itulah para pendahulu kaum muslimin adalah sosok yang akrab dengan tangisan. Mereka merasa yakin bahwa tangisan karena Allah subhanahu wa ta'ala merupakan suatu perilaku yang utama di samping terasa begitu nikmat. Tangisan inilah tangisan yang dicintai Allah SWT. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain dari dua tetes dan dua bekas: tetes air mata karena takut pada Allah dan tetes darah di jalan Allah, adapun dua bekas adalah bekas di jalan Allah dan bekas kewajiban dari kewajiban Allah". (Sunan al-Tirmidzi no.1669, berkata Abu Isa, Hadits ini hasan gharib)
Menangis di saat mendengar ayat-ayat Allah dan nasehat-nasehat tentang akhirat adalah merupakan bukti dalamnya iman, merupakan bukti manfaatnya ilmu dan merupakan kebiasaan para Nabi dan orang-orang shalih selagi di dunia. Tangisan keimanan menunjukkan kualitas iman seseorang. Karena itulah para pendahulu kaum muslimin adalah sosok yang akrab dengan tangisan. Mereka merasa yakin bahwa tangisan karena Allah subhanahu wa ta'ala merupakan suatu perilaku yang utama di samping terasa begitu nikmat. Tangisan inilah tangisan yang dicintai Allah SWT. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain dari dua tetes dan dua bekas: tetes air mata karena takut pada Allah dan tetes darah di jalan Allah, adapun dua bekas adalah bekas di jalan Allah dan bekas kewajiban dari kewajiban Allah". (Sunan al-Tirmidzi no.1669, berkata Abu Isa, Hadits ini hasan gharib)
Berikut adalah kisah tangis keimanan orang-orang terdahulu:
Umar radhiyAllahu anhu pernah terjatuh dalam keadaan pingsan karena takut ketika dia mendengar sebuah ayat Al-Qur'an, Dia juga pernah mengambil jerami pada suatu hari, lalu berkata: "Alangkah baiknya kalau aku dahulu adalah jerami dan bukan sesuatu yang disebut-sebut, alangkah baiknya ibuku tidak melahirkan aku". Menangislah dia sepuas-puasnya sehingga air mata mengalir dari matanya, lalu membentuk dua buah garis hitam pada wajahnya bekas air mata.
Al-Irbadh bin Sariyah berkata, "Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menasehati kita dengan nasehat yang membuat mata menangis dan hati bergetar". Al-Dhahhak bin Muzahim bila tiba sore hari menangis. Ketika ditanya oleh seseorang apa yang menyebabkan pecah tangisnya, dijawab, "Saya tidak tahu amalan apa yang naik ke langit hari ini".
Ka’ab al-Ahbar berkata, "Menangis karena takut pada Allah kemudian air mataku mengalir di badanku, itu lebih aku cintai daripada bersedekah dengan emas seberat badanku".
Al-Dzahabi berkata, "Ibn al-Munkadir bila menangis mengusapkan air mata yang ada ke wajahnya dan janggutnya, dia berkata, "Aku pernah mendengar bahwa api neraka tidak akan melalap tempat yang terkena air mata karena takut pada Allah".
Yahya bin Bakir berkata, "Saya bertanya pada Shaleh agar menjelaskan cara memandikan mayat dia tidak mampu menerangkan karena banyaknya menangis. Muhammad bin al-Mubarak berkata "Bila ketinggalan shalat berjamaah Said bin Abdulaziz".
Bagaimana dengan kita? kita yang bukan orang-orang di masa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Apakah tangisan kita karena menyadari dosa-dosa kita? Apakah tangisan karena kita menyadari kurangnya amal kita, takut akan adzab Allah?? apakah kita termasuk orang yang mampu meneteskan air tersebut?. Jikalau belum, maka sudah selayaknya kita mengoreksi hati kita. Bisa jadi, hati kita telah mati, atau menderita penyakita hati yang sudah parah, ataukah iman kita yang begitu rapuh? Na'udzubillah.
sumber : Majalah Fatawa Vol 3 No 12 Desember 2007
Umar radhiyAllahu anhu pernah terjatuh dalam keadaan pingsan karena takut ketika dia mendengar sebuah ayat Al-Qur'an, Dia juga pernah mengambil jerami pada suatu hari, lalu berkata: "Alangkah baiknya kalau aku dahulu adalah jerami dan bukan sesuatu yang disebut-sebut, alangkah baiknya ibuku tidak melahirkan aku". Menangislah dia sepuas-puasnya sehingga air mata mengalir dari matanya, lalu membentuk dua buah garis hitam pada wajahnya bekas air mata.
Al-Irbadh bin Sariyah berkata, "Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menasehati kita dengan nasehat yang membuat mata menangis dan hati bergetar". Al-Dhahhak bin Muzahim bila tiba sore hari menangis. Ketika ditanya oleh seseorang apa yang menyebabkan pecah tangisnya, dijawab, "Saya tidak tahu amalan apa yang naik ke langit hari ini".
Ka’ab al-Ahbar berkata, "Menangis karena takut pada Allah kemudian air mataku mengalir di badanku, itu lebih aku cintai daripada bersedekah dengan emas seberat badanku".
Al-Dzahabi berkata, "Ibn al-Munkadir bila menangis mengusapkan air mata yang ada ke wajahnya dan janggutnya, dia berkata, "Aku pernah mendengar bahwa api neraka tidak akan melalap tempat yang terkena air mata karena takut pada Allah".
Yahya bin Bakir berkata, "Saya bertanya pada Shaleh agar menjelaskan cara memandikan mayat dia tidak mampu menerangkan karena banyaknya menangis. Muhammad bin al-Mubarak berkata "Bila ketinggalan shalat berjamaah Said bin Abdulaziz".
Bagaimana dengan kita? kita yang bukan orang-orang di masa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Apakah tangisan kita karena menyadari dosa-dosa kita? Apakah tangisan karena kita menyadari kurangnya amal kita, takut akan adzab Allah?? apakah kita termasuk orang yang mampu meneteskan air tersebut?. Jikalau belum, maka sudah selayaknya kita mengoreksi hati kita. Bisa jadi, hati kita telah mati, atau menderita penyakita hati yang sudah parah, ataukah iman kita yang begitu rapuh? Na'udzubillah.
sumber : Majalah Fatawa Vol 3 No 12 Desember 2007
No comments:
Post a Comment